Aku Punya Teman..., Panggil saja si 'Eneng' Temanku ini rada ajaib.... pertama dikenalin suami saat dinner bareng, waktu mulai ngobrol, ujug-ujug dia bilang 'aku bukan orang miskin loo bu!', (dalam hati... 'waduh apa yang salah nih....'). Ketemu lagi, karena Eneng minta ditemenin nyari tiket sekalian urus kipem. Ketemu orang yang ngurusin Kipem, si Eneng ngobrol dalam bahasa leluhurnya, lancar banget.... takjub mendengarnya, soale pada pertemuan pertama (hehehe..) si Eneng ngaku karena dah lama tinggal di Ibu kota jadi dah ga bisa bahasa leluhurnya... 'Gubraaaakkkkkkksssss. Si Eneng, nih bener-bener ajaib dan menakjubkan, Suatu hari dia menelpon-ku dengan sisa tangisan, karena dia ada masalah dengan pengurusan Surat Nikahnya juga komunikasi ama si Pacar. Karena aku ga ada pengalaman aku ajak dia Dinner sama teman lain yang sudah menikah dan punya pengalaman dengan KUA dst, supaya bisa share. Akan tetapi.... pas aku kenalin ke temen, 'Jeng, kenalin ini Bu Eneng dia lagi urus surat nikah', takjub aku dengar komentar si Eneng. 'semua surat-surat saya sudah selesai, lancar banget, kebetulan orang kehakiman sekomplek di Ibu kota, jadi semua selesai cepet'. HAHHHH???? menakjubkan. Aku bengong ...melongo..... tuwing...tuwing... Ke Ajaiban si Eneng ni, melebihi 7 keajaiban dunia hehehe.... kalo dihitung-hitung sudah banyak keajaian yang dia perlihatkan ke aku, tapi ketika dia berlibur ke tempat calon Mertua, aku kangen .... tak ada lagi perasaan takjub... tak sabar menunggunya pulang, hehehehehe. Beberapa teman heran... kenapa si Eneng ga punya teman dikomplek tempat tinggalnya, padahal banyak ibu-ibu expatriat disana, aku malah berteman dengan beberapa dari tetangganya. ... ga tau ya.... mungkin cuma aku yang bisa digoblok-goblokin...hehehe..
Akhirnya.... Aku berani ..... Berani memerangi rasa takut Yang entah dari mana datangnya Aku berani .... Berani terobos logika Hempaskan rasa takut Yang tak kutahu kenapa mesti menyapaku... Susah.... Aku berani lagi.... Jika nanti, Rasa takut yang tak tahu kenapa pernah datang Rasa takut yang kala itu membelenggu langkah... Rasa takut yang seakan memagariku dengan dunia luar Hadir lagi dengan kabut tebal... Aku akan berani…. Dan tak akan bergeming Ku yakin, ‚Aku Bisa, Pasti!’ Terima kasih ... sangat Untuk Hyang Widhi, atas kekuatan dan kenyamanan Yang hampir kuragu kan sibak kabut tebal hari itu Terima kasih... Bunda, kakak – adik dan keluarga tercinta Untuk kehangatan dan selimut kasih tanpa henti Terima kasih.... Sahabat terkasih, yang selalu ada dan senantiasa menguatkan Akan ku simpan ‚takut’ hingga ‚berani’ selalu ada ILoveYouAll.
Terlahir ku disini... Aku bagian dari tanah ini... Aku yakin itu
Tumbuhku di tanah seberang, tak halangi aku tuk dengar indah dan magis-nya tanah kelahiran-ku Indahnya tanah Bali, Indahnya 'rasa' yang diberi semasa ku tumbuh dan hanya singgah..., kemudian berlalu tuk kepakan sayap ditempat lain.... Telah kurasakan dan senantiasa kurindukan... Tapi........... Magis....... tanah ini... Hanya kudengar lewat cerita pengantar tidur Ayah dan Ibuku Ketika aku, kakak dan adikku, terpesona akan 'magis' tanah tercinta. Dan selalu ingin tau lebih... dan lebih lagi...kemudian berlalu...
Takut...... Rasa yang hadir.... menghalangi langkahku..... Ketika aku kembali ke tanah kelahiranku untuk pulang... Dan 'magis' dari cerita pengantar tidur Ayah dan Ibuku... Menyapa...
Tanya mengganjal di dada, Tak terpapar rasio... Gelap! Aku takut.... Maafkan aku..... tak bisa tuntaskan rasa ini... Ketika semua tak lagi gelap.... Kan ku ceritakan kisah ini....
Maaf, aku tak bisa hadir.... menyapa teman-teman walo aku kangen..... Sangat... Maaf...
 Mendekati perempatan LP Kerobokan jam 4.30 sore tadi, kendaraan mulai padat.... belum pernah ku alami..... Di perempatan Jl. Merta Agung.... aku dapatkan jawabannya. Pada jam pulang kantor, di perempatan itu kendaraan tak bergerak, tak ada yang mau mengalah, dari timur, dari barat, dari utara dan dari selatan, semua mau berlalu paling awal, alhasil kendaraan tak bergerak. Aku ada dikerumuan itu... mau ketawa rasanya melihat 'perang jalur' ini. Mengalah atau Macet?
Dear my friends,
I am in Bali .....
Depart earlier to join Ngaben on May 1, 2008
A ceremony for my lovely Aunty
I will be back soon to say 'hi'
Have a great week-end, -dee nita-
Garage sale lancar.... Yes! Tapi........ ga bisa nonton TV... sepi.... Eh... masih ada radio, lumayan.... Acara kirim-kirim lagu disalah satu Radio FM, lagu-lagu yang di-request dari lagu pop, lagu nostalgia, lagu manado, Ambon dan Papua, tapi ada yang aneh.... gini nih kirim lagunya' S: Malam kak, mo kirim lagu.. P: silahkan... S: kesatu, untuk Ance selamat malam S: Kedua, untuk putri misool, selamat malam, S: ketiga, untuk mama-mama di J, selamat malam... S: Keempat untuk temanku di asrama, selamat malam, dst..dst.. S: ke...., kedua belas, untuk yang di tanjung penantian, salamnya saya terima... Sudah Kaka, trims, mat malam ka... busyetttttt....... mo kirim lagu atau belajar berhitung, Bu...
Memijak Papua... Menerima sapa si 'malaria' Aku dengar, enam bulan memijak bumi ini Sapa-an itu pasti datang... Aku lihat, teman-teman tumbang dalam masa enam bulan pertama.. 'Malaria' menyapa.... Menggigil...., ngelantur.... Tapi aku..... Aku baik-baik saja.... Enam bulan terlewati Aku baik-baik saja.... Makan banyak, tidur banyak... (lemak banyak....) Ku pasang kelambu, Aku merasa lengkap dan jumawa.. Dia.. tak akan menyapa aku... Setahun lewat.... Aku baik-baik saja.... Dua tahun, aku masih baik-baik saja.... Kelambu....... tak perlu lagi Dua tahun setengah.... Ternyata aku tak Sakti... Dia menyapaku... Kubawa dalam darahku... Ku tahu... dia akan menyapaku... lagi! Entah, hari ini, esok, disini atau disana... 
Times goes so fast... 10 days to go!. I started to say good bye, on Sunday, April 21, 2008 and it was full moon. Full moon, the perfect time to say good bye to my balinese-Hindu friends at our temple in Aimas. Yesterday, was a good bye visit to friends at 'Batik Papua shop'- place where I used to buy Papuan's Batik for a gift and for sure my last batik shopping in Sorong . 
Hallo teman-teman MP, Ada pertanyaan dari sesama MPer tentang arti 'KINTAMANI' *kintamani-bangli*, ada yang tau ga? Ditunggu ya... Terima kasih banyak.
Hari ini, hari Rabu.... aku was-was.... Akan mati lampu lagi ga ya.....? Kemarin, Hari Selasa lampu mati lagi.... Panas..............!!! Sehari sebelumnya, Senin... lampu mati juga.. seharian! Hari Minggu, di rumah mati lampu, aku ngadem ke kantor.. Ealah ... 5 menit di kantor.... lampu padam juga ... Apes! Besok, Hari Kamis adalah jadwal mati lampu di Gardu lingkungan Kantor... Enaknya ngapain ya....hmmmmmmm Kalau..., kalau nih ya... Hari Jumat mati lampu lagi... Hari Sabtu libur..... Seminggu ini... ... menghitung hari..... menunggu dengan tak pasti... besok mati lampu ga sih..??? Ada apa ya.. dengan republik ini????!!!??? Nelpon ahhh... Hape deeeeeeee
7 Mei nanti 3 tahun aku di Sorong, tapi aku tidak akan disini hingga hingga hari itu. Aku akan pulang.... pulang ke bumi Bali-ku. Memulai hari baru yang lain, berkumpul sebagai keluarga yang utuh. Belajar untuk ilmu baru yang selalu hadir dan berganti baru. Aku mau... dan menunggu... 7 Mei 2005, aku mendarat pertama kali di Sorong, bumi panas nan kaya. Masih ku ingat, 'muatan lokal' yang dibekali oleh senior-ku di kantor Bali tentang Bumi panas ini. Tidak, Bumi Panas ini tidak seseram 'muatan lokal' yang ku terima, sama sekali tidak, Bumi Panas ini menyimpan 'keramahan' yang berbeda dari tempat lain yang pernah ku-kunjungi. Dan... ku mulai hari-hari di kota ini. Kota ini sangat panas tapi minim polusi, udaranya segar.... aku jatuh cinta.... paru-paruku bahagia! Hingga tahun ketiga, ku dengarkan... bagaimana Malaria menyapa para pendatang dan bagaimana 'HIV' merenggut kehidupan disini... memprihatinkan. Bagaimana pemilik 'bumi panas' ini hidup sederhana dan terpinggirkan di bumi mereka sendiri... bumi kaya dan cantik, mestinya berlimpah kemakmuran untuk mereka. Tapi....... Tapi, aku harus pulang... kan tetap aku dengarkan kisah tentang kota Sorong dan Papua, berharap HIV tidak lagi merenggut korban,tidak ada lagi 'marga' yang hilang, punah... berharap Malaria bukan lagi momok bagi mereka yang ingin berkunjung ke Bumi Panas yang Cantik, segar nan kaya ini..... Terima kasih telah menerima aku, noktah kecil yang pernah menjadi bagian Bumi cantik ini, tak ada yang ku lakukan untuk-mu..... hingga tak kau sadari hadirku, Maaf.... aku hanya singgah dan berlalu... .... Kini...aku mulai menghitung hari, mengenalimu lebih jauh, hingga tak ada sesal bila ku tinggalkan dirimu..... ya... aku akan pulang.... bukan, bukan 07 Mei hingga bulat sejarahku disini, tapi aku pulang 1 Mei nanti...... Terima kasih........ telah memelukku erat dan hangat.
Pulang aku ingin..... Sangat! Pulang aku akan.... Segera! Pulang ku tak sabar..... 1 Mei lama kali!
Kemarin aku nonton acara "80's" di Metro, seru dan membangkitkan kenangan khususnya buat kami-kami remaja tahun 80-an...hehehehe, mulai dari gaya berpakaian, artis, lagu, istilah-istilah juga tempat-tempat gaul pada masa 80-an dikupas habis... Bermula dari acara di Metro malam itu... jadi deh ingetan kemana-mana, yang satu ini bukan dari masa 80-an tapi 90-an.. Dulu... jaman sekolah di Bali, aku kost di Bukit Jimbaran, di UD Sudamaya, rumah konglomerat Bukit yang anak kostnya mencapai ratusan orang, mobil 'blue-thunder'-nya puluhan, belum lagi pohon buah-nya yang bertebaran...di bukit, mmmm ... yang pasti lokasinya bersebelahan ama kampus-ku. Kamarku terletak dibangunan paling depan nyambung dengan warung Ibu Kost, dibarisan kiri dan bagian belakang kamar nyambung dengan lorong yang panjangnya sepanjang deretan 4-5 kamar yang multi fungsi, seringnya sih jadi gudang. Disebelah kamarku adalah kamar cucu si 'Odah' *nenek pemilik rumah*, namanya 'Bli Meja' orangnya istimewa, karena phisiknya kurang sempurna dan baik dan bicara lancar. Tahun pertama nge-kost, tibalah musim 'silik' *srikaya* yang memang pusatnya di bukit, alhasil gudang belakang kamar kami berisi tumpukan buah silik. Gudang buah ga di kunci dan temen-temen se-kost suka nyolong buah ini, masuk lewat pintu gudang, buah di'selundup'kan ke kamar-ku lewat kaca nako, terus keluar lagi lewat pintu gudang tanpa tentengan... selamet... selanjutnya... bagi-bagi silik dan makan bareng... mantep! Kalau cuma mo makan silik aku ga perlu nyolong, karena temen-temen nyelundupinnya lewat kamarku, tapi namanya juga penasaran.... aku bilang ke anak-anak, 'ntar..aku mo nyolong juga ah...' saat itu hampir maghrib habis mandi, dikamar-ku masih ada stok silik anak-anak... dengan 'Pede' aku masuk gudang, ga perlu masuk jauh-jauh, dekat pintu masuk dah menggunung silik dalam keranjang-keranjang bambu, asyiiiikk..., ehhh... lagi asyik-asyiknya milih silik orang... ada suara ramah.."pilih..pilih aja todee... yang bagus-bagus aja yang di-ambil..." gubraakkkkk!, mati...! suara sapa tuh...., eh Bli Meja muncul dengan wajah lugunya sambil tersenyum ramah..... aku langsung ngomong, "eh .. bli Meja... hehehe" cengegesan!. "Makasih nggih , Bli...." trus.... KABUR!!!!!, Sementara dikamarku....'suara ketawa ngakak anak-anak yang bikin sebel'. Lain hari, aku lagi nangkring di pohon mangga 'Odah', dilapangan bulutangkis depan kamar, eh lagi seru rebutan mangga ma temen-temen, *aku di dahan paling rendah*, si 'Odah' lewat, sambil jalan beliau ngomong "pilih-pilihin Tut"....Astaga...!!! Yang parah nih.... odah punya dua cucu remaja yang kompak ama anak-anak kost, kalo malam minggu, suka nyari kelelawar buat dimasak atau bakar-bakar ayam....nah... suatu hari minggu kita lagi kumpul maen kartu... *dah lupa berapa kelompok..*, Odah dateng dengan muka perang...."Siap odah ilang, nyen nampah..." artinya.. "Ayam odah hilang, sapa yang nyembelih....", Waduhhhhhhhh...! ga ikutan nih.... anak-anak cowok tuh... aku kabur ke kamar temen yang pintunya tembus ke bangunan lain, sambil menggumam....'sumpah odah... tiyang ten sareng.... tiyang kan kelompok buah-buahah...he.he..he...
Temen-temen MP-ku, Kami berencana mendaftarkan pernikahan kami di catatan sipil di German. Tolong donk teman-teman yang punya informasi tentang cara, waktu dan syarat-syarat yang mesti dipenuhi, share ke aku ya.... oh ya, pernikahan kami sudah tercatat di Indonesia. Apakah pendaftaran bisa dilakukan disetiap kota atau kota tertentu saja? Terima kasih banyak ya, aku tunggu informasi dari teman-teman semua. Semoga Tuhan membalas kebaikan teman-teman semua. Merdeka!, -nita-
Nyepi tiba.... dan aku kesiangan..... Tiba di Lombok, sehari sebelum Nyepi sama sekali tak terasa suasana 'pengerupukan', sepanjang jalan dari Bandara menuju Senggigi hanya sekali aku lalui 'upacara pecaruan'. Mungkin, riuh pengerupukan ada di Lombok bagian lain.... Larut akan suasana malam Senggigi, aku tidur telat dan telat bangun saat Nyepi, alhasil aku cuma sempat minum segelas air putih, mandi sembahyang pagi kemudian memulai ritual Nyepi-ku. Nyepi ini adalah Nyepi pertama bersama tsunami (aku senang memanggilnya begitu), tsunami menghabiskan hari ini di 'Gili Terawangan' bersama teman-temannya, ketika kembali jam 5 sore (sejam sebelumnya minta AC dinyalain, supaya dingin pas dia tiba), masih dengan bangga dia berucap,'honey, malam ini ga usah nyalain lampu sampe pagi, ga masalah', 'Thank you', balasku. Jam enam sore, suami keluar cari ayam taliwang untuk buka puasa-ku (Nyepi yang aneh), trus jalan lagi bareng temennya, jam 8 malam dia kembali 'menengok-ku' dalam gelap, kemudian pergi lagi. Jam 2 pagi dia kembali ke kamar, kali ini dengan suara pasrah; 'sayang, tadi teman-teman telpon ke Bali, katanya di Bali dah bisa nyalain lampu...'...hahahahaha..... ternyata...., dia ga tahan dengan kegelapan! kacian amat tsunami satu ini... ku nyalakan lampu, berakhir sudah brata pe-Nyepi-an tahun ini, semoga tidak mengurangi makna Nyepi.... Om Awighnam Astu Namo Sidham. merangkak.... tertatih....kugapai Hening.......... damai.......... senantiasa bersama Dharma.
Hari ini, bangun jam 6 pagi untuk siap-siap ke Lombok. Mata masih sepet karena balik dari Melasti di kampung langsung ke kuta dan balik tengah malem. Taxi on time.... senangnya bakalan santai di Lombok. Check-in time, PROBLEM!. hari ini terbang dengan Merpati (lagi) karena ga ada pilihan lain, booking dari 2 minggu lalu, semua ok, check-in satu jam sebelum jadwal terbang, akan tetapi................sodara-sodara.., pesawat penuh, 'bagian reservasi terima 60 bookingan sementara seat cuma 56!!!!, nyesek ga tuh.. kita berangkat 7 orang, tapi check in masing-masing, giliran aku ma hubby, dah ga bisa sama sekali untuk terbang dengan pesawat pagi, transfer ke airline juga ga bisa semua over booking! MERPATI lagi........... menunggu lagiiii... Singkat cerita kita akan terbang jam 16:00 sore nanti, dari jadwal 10:00 am, setelah hubby marah-marah mo cancel penerbangan, minta ongkos ganti taxi' cancellation fee untuk hotel booking, rameeeeeee, *nice try* aku sebel ga mau ngomong, ketika officer mau ngomong ma aku, aku bilang ngomong ma suami saya aja Pak, saya capek, habis 2 kali cancel, sekarang overbooking...., ---- sengaja... biarin deh, supaya mereka tau 'penumpang juga manusia' punya jadwal.... hehhheee *rocker kaleee*. Memang sih mereka minta maaf, mereka salah, kurang koordinasi, kasih kita nunggu di lounge, tapi sebelnya ga nahanin...*grrrrrrhhhhhhhh!!!!!*, sekarang aku lagi nulis pake fasilitas lounge.... yang off tiap 30 menit... nasib..... Disini aku......., menanti merpati yang sudah menjajahku, berkali-kali.........., bodohnya aku... setuju terbang bersama-mu.....(lagi) yang kutahu selalu ingkar......... Semoga, Lombok menunggu kami ramah dan bersahabat. SELAMAT HARI RAYA NYEPI, Tahun Caka 1930, Semoga Hening dan Damai. Lelah........ tetapku bersyukur! (thanks Arie).
I insist to have massage before start my day in Bali. First day we were having our favourite food in Denpasar and end the day with my 'doctor moment'. Second day, there was teleconference i should join *duties call*. It takes time and too late to have my massage, than I decide to join my hubby at work for 'internet zone', but the connection was bad, so I make my day 'jalan-jalan' in Kuta and I found Green Spa by accident. hmmmm make my day..  I decided to take a package for Rp 165,000.- and enjoy massage, body scrub and hair spa!. Massage was ok, turn to body scrub steps, they start turn-off the air-condition, they keep me warm, but 'Why?", then I know why!, after scrubbing my body, they watering me..., oh no they 'milking' me till I complete wet then cover my body with bed sheet! and another surprised come, 'maaf ibu, hot water kami rusak', oh they didn't have hot water!. Take deep breath...... ready for my hair spa, steps by steps seems right, till i realized she keep work with towel for my hair, I turn my face to her and before I asked, she said 'maaf Ibu, kami tidak punya hair dryer', OMG! ladies and gentlemen, this spa don't have hair dryer! Felt in-trap!, why they didn't mention it in advance!!!! gggggrrrrrrhhhhhhhhhhhh So, my spa day ended with my 'WET LOOK STYLE", I should continue my day with this look. Hubby was laughing out loud, when he saw my wet look. Guys, DARE for WET LOOK?
Horeeeeee! musim buah telah tiba.... senangnya. Dua minggu terakhir di Sorong mulai muncul buah musiman, pertama kweni, terus durian, kemarin malah muncul pula duku n langsat. Girang banget!, lupa kalo jauh ma suami hehehehe... *becanda* Aku tuh suka banget ma mangga kweni, kami bilang 'poh eni', buah ini agak 'dijauhi' karena wanginya yang menyengat dan konon mangga ini menyebabkan panas, gatel dimulut/bibir dan sakit perut karena 'keras'. Masih ingat masa kecil di Palu, kalau mo beli mangga ini mesti ngumpet-ngumpet biar ga ketahuan ortu, seringnya beli dan minta dikupasin ma yang jual trus makan ditempat. Di Palu gampang banget untuk dapat mangga jenis ini dan harganya murah. Susahnya waktu aku mulai tinggal di Bali, hampir empat tahun ga nemu mangga jenis ini *ga jelas kapan musimnya*, ga segampang di Palu dapetnya. Susi-teman kantor dari Negara-Bali bawain aku dari kebunnya langsung saat balik cuti. senangnya... thanks Susi!. Dah segitunya untuk bisa makan buah ini lagi, masih dapet cibiran pula dari orang sekitar.....'mangga ginian dimakan?!'... astaga! pasti belum pernah menikmati kenikmatan Kweni nih!. Aku cuek aja, walo sebenarnya bingung juga, 'apa yang salah dengan si kweni ini' , dari reaksi sekeliling saat itu sepertinya si 'kweni' ini trah-nya kurang tinggi dikelas Mangga. Ah bodam!, bodo amat, sekali kweni tetep kweni!. Mulai saat itu aku punya misi,mo 'meng-insyaf-kan' orang-orang sekeliling yang begitu anti sama kweni *alah!*. Dan 'mission accomplished', mereka yang tadinya anti sekarang jadi doyan 'kweni'. welcome to the club! yes!  Aku lupa kapan, akhirnya kweni bisa didapatkan di supermarket di Bali, pertama kali aku dapat di 'Tragia Diponegoro' *sekarang dah tutup*, Saat ini di 'Tiara Dewata' juga bisa dapet kalau lagi musim . Lain di Bali, lain lagi di Sorong, disini kweni gampang banget ditemuin kalau lagi musim *namanya juga musim!*. Di pasar, supermarket, komplek pertokoan, si kweni ini bisa kita dapet. Di sorong dijual per tempat. satu tempat isi 4 buah mangga, harganya Rp 20.000.-. Dirumah, Si Kweni ini juga ada dalam list 'allert' menemani Durian, yang dengan berat hati aku terima.... . *secara ga bisa ngelak, suami udah beberapa kali sakit kepala karena wangi kedua buah aduhai-ku!*  Nah.... gambar disamping ini adalah tempat aku beli si wangi 'kweni'. Mama-mama ini gelar dagangannya di depan 'Saga' supermarket. Di Sorong adalah pemandangan biasa penduduk setempat jualan didepan supermarket atau areal airport, simbiosa mutualisme? Betewe, balik ke katagori 'keras' si Kweni ini, rasanya ada benarnya, beberapa kali karena kalap dan 'nggragas' aku diare.... tapi teteup keukeuh..... ini Kweni gitchu loh!...
| |